Segala sesuatu jika dilakukan ataui dikonsumsi
secara berlebihan sudah tentu akan mengganggu kesehatan. Hal ini juga berlaku
bagi teh, minuman favorit masyarakat Indonesia.
Minum teh yang sudah menjadi tradisi bagi
masyarakat Indonesia, tak hanya memberikan manfaat, namun juga membahayakan
kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dr John Milner, asisten Profesor Departemen
Urology, Loyola University Chicago Stritch School of Medicine, menyatakan bahwa
orang yang memiliki kecenderungan pembentukan batu ginjal, teh merupakan
minuman yang tidak dianjurkan untuk diminum.
Teh mengandung oxalate dengan konsentrasi
tinggi, salah satu zat kimia yang dapat memicu pembetukan batu ginjal dan
kerusakan umum saluran kemih.
Selain itu, kebiasaan kurang baik selama musim
panas yang sering dilakukan banyak orang adalah cenderung memilih minuman segar
seperti es teh manis, dibandingkan minum air putih.
Dehidrasi yang dikombinasikan dengan
peningkatan konsumsi teh, meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal terutama
bagi orang yang mengidap risiko itu.
Batu ginjal adalah kristal kecil yang
terbentuk dari mineral dan garam. Sering kali ditemukan di urin dalam ginjal
atau uretra (saluran kecil yang mengalirkan urin dari ginjal ke kandung kemih).
Tak hanya minum teeh dalam porsi banyak yang
berbahaya, Bila seseorang mengkonsumsi Teh bersama makanan besar (makan nasi
dengan lauk), Zat besi yang ada di lauk akan terikat oleh tannin dan catechin
sehingga tidak dapat terserap usus.
Fe atau zat besi di makanan berguna membentuk
sel darah merah atau eritrosit. Jadi, bila seseorang kekurangan zat besi, akan
timbul penyakit kekurangan sel darah merah atau eritrosit yang sering disebut
anemia Defisiensi Besi.
Anemia Defisiensi Besi yang parah dalam waktu
lama bisa mengakibatkan berbagai komplikasi anemia diantaranya gagal jantung,
gangguan pertumbuhan dan komplikasi saat persalinan.


