Yogyakarta punya wisata yang lengkap, seperti
wisata sejarah, religi, dan budaya. Salah satu tempat wisatanya yang terkenal
adalah Alun-alun Kidul. Ada permainan uji nyali melewati pohon beringin kembar
di sana. Berani?
Alun-Alun Kidul adalah gerbang selatan kawasan
Keraton Yogyakarta. Dibuka dengan Plengkung Gading di bagian selatan, itulah
jalan masuk ke sebuah lapangan besar yang selalu ramai siang dan malam ini.
Daerah ini ramai oleh pedagang makanan, pedagang barang bekas maupun para
wisatawan yang rehat dan mencari hiburan di kawasan itu.
Saat malam menjelang, muda-mudi maupun dewasa
akan keluar dan memainkan sebuah permainan yang sudah melegenda, yang bernama
Masangin. Masangin sudah menjadi bagian integral dari kawasan Alun-Alun Kidul.
Permainan ini adalah permainan favorit bagi anak-anak dan muda-mudi di kawasan
Alun-Alun selatan.
Bermain masangin itu gampang sekali. Pemain
hanya cukup berjalan ke selatan melintasi dua pohon beringin tua yang ada di
tengah lapangan atau Alun-alun. Jarak antara kedua pohon beringin tersebut
cukup luas dan gampang sekali diseberangi dengan mata telanjang. Tapi, tentu
saja tidak akan seru jika membuka mata. Maka agar lebih seru, perjalanan
melintasi dua pohon itu harus dalam kondisi mata tertutup. Pemain harus menutup
mata menggunakan slayer, kain hitam atau sapu tangan.
Permainan Masangin ini adalah permainan yang
dipakai untuk memecahkan mitos. Mitos yang beredar di masyarakat Yogyakarta,
jika seseorang mampu melintasi kedua pohon beringin dengan mata tertutup, maka
setiap keinginan yang kita niatkan sebelum permainan akan dikabulkan.
Konon, yang bisa melintas hanyalah orang yang
memiliki kebersihan hati. Jika hati bersih, maka pemain akan mulus melintasi
dua pohon tanpa hambatan. Begitu juga sebaliknya, jika hati tidak bersih, maka
pemain akan berputar-putar atau miring ke kanan dan ke kiri beringin.
Alun-Alun Kidul dulunya adalah lokasi latihan
para bala tentara Keraton Yogyakarta, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat ini
juga biasanya dipakai sebagai lokasi sowan para abdi dalem, prajurit, beserta
anak buahnya setiap malam bulan Puasa, biasanya tanggal ganjil 23, 25, 27 dan
29 Ramadan.
Sembari menunggu Lailatul Qodar. Tradisi ini
sempat dihentikan saat Sri Sultan Hamengku Buwono VIII bertahta. Padahal pada
era Hamengku Buwono VII, tiap Senin dan Kamis, digelar lomba panahan di siang
harinya.
Masangin awalnya berasal dari tradisi topo
bisu. Ritual ini dilakukan dengan berjalan berkeliling benteng, biasanya
diadakan pada malam 1 Suro atau pada ulang tahun berdirinya Keraton Yogjakarta.
Saat itulah para prajurit Keraton dengan memakai pakaian adat Jawa lengkap akan
berjalan mengelilingi benteng. Aturan saat mengelilingi benteng adalah diam.
Tidak boleh berbicara samasekali. Inilah yang dimaksud dengan topo bisu.
Setelah selesai mengitari Keraton, ritual
berikutnya adalah berjalan masuk di antara dua pohon beringin di Alun-Alun
Kidul. Ritual tersebut dilakukan untuk 'ngalap berkah'. Termasuk juga sebagai
simbol permohonan pertahanan dan keamanan keraton dari serangan musuh-musuh
dari luar. Mitosnya, kalau bisa masuk di antara kedua pohon beringin itu dengan
mata tertutup, maka keinginan akan terkabul.
Menurut kepercayaan di kalangan masyarakat
Yogyakarta, di antara kedua pohon beringin itu ada rajah (semacam jimat tolak
bala untuk musuh kerajaan). Apabila bala tentara berhasil berjalan di antara
kedua beringin tersebut, maka kekuatan musuh bisa hilang. Rajah itu adalah
jimat yang berfungsi seperti benteng keraton yang tidak kasat mata.
Orang yang bisa masuk menyeberang di antara
kedua pohon beringin ini berarti bisa menolak rajah itu. Itulah sebabnya mata
harus ditutup sebagai simbol bahwa hanya orang dengan kekuatan penglihatan hati
yang sanggup melewati lorong antara dua beringin.
Pemaknaan menyeberangi beringin alun-alun ini
perlahan mulai tergeser. Ritual budaya yang awalnya sangat sakral dan dimaknai
sepenuh hati, saat ini tidak bermakna sesakral dulu
Belakangan ini, masangin dianggap sebagai satu
permainan untung-untungan belaka. Saat ini, setiap sore sampai malam hari di
Alun-alun Kidul banyak dijumpai masyarakat yang mencoba peruntungan melewati lorong
dua beringin atau yang sering disebut beringin kembar. Masangin sendiri, adalah
akronim dari Masuk Dua Beringin.


